MASTER38 MASTER38 MASTER38 MASTER38 BOSSWIN168 BOSSWIN168 BOSSWIN168 BOSSWIN168 BOSSWIN168 COCOL88 COCOL88 COCOL88 COCOL88 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MAHJONG69 MAHJONG69 MAHJONG69 MAHJONG69 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 ZONA69 ZONA69 ZONA69 NOBAR69 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38
SLOT GACOR HARI INI SLOT GACOR HARI INI
BOSSWIN168 BOSSWIN168
BARON69
COCOL88
MAX69 MAX69 MAX69
COCOL88 COCOL88 LOGIN BARON69 RONIN86 DINASTI168 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 MABAR69 COCOL88
ronin86
bwtoto
bwtoto
bwtoto
master38
Search for:
  • Home/
  • ACEH/
  • 10 Contoh Cerita Rakyat Pendek Terpopuler, Penuh Pesan Moral!
10 Contoh Cerita Rakyat Pendek Terpopuler, Penuh Pesan Moral!

10 Contoh Cerita Rakyat Pendek Terpopuler, Penuh Pesan Moral!

0 0
Read Time:16 Minute, 8 Second

JAKARTA, iNews.idContoh cerita rakyat pendek terpopuler menarik untuk diulas kali ini. Seperti kita ketahui, Indonesia merupakan negeri kepulauan yang memiliki banyak tradisi, budaya, dan ciri khasnya masing-masing. 

Adapun, salah satu bentuk warisan budaya yang cukup populer di kalangan masyarakat adalah cerita rakyat. Pada umumnya, cerita rakyat ini bersifat anonim alias tidak diketahui pengarangnya. Serta disampaikan secara turun temurun secara lisan. 

Melansir dari buku Rangkuman 100 Cerita Rakyat Indonesia Dari Sabang Sampai Merauke, karya Shouf (2013) dan buku 108 Cerita Rakyat Terbaik Asli Nusantara, karya Reza (2010),  berikut contoh cerita rakyat pendek terpopuler, Selasa (16/1/2024). 

Contoh Cerita Rakyat Pendek 

1. Judul: Banta Berensyah (Aceh)

Alkisah, di sebuah dusun terpencil di daerah Nanggroe Aceh Darussalam, hiduplah seorang janda bersama seorang anak laki-lakinya yang mahir bermain suling, bernama Banta Berensyah. Keduanya hidup sangat miskin.

Suatu hari, Banta Berensyah mendengar kabar dari seorang warga bahwa ada seorang raja yang mengadakan sayembara. Raja itu mempunyai seorang putri yang cantik jelita bernama Putri Terus Mata. 

Putri tersebut akan menerima lamaran bagi siapa saja yang sanggup mencarikannya pakaian yang terbuat dari emas dan suasa (campuran emas dan tembaga). Banta memutuskan untuk mengadu peruntungannya. Dengan restu ibunya, ia pergi hanya berbekalkan sehelai daun talas dan seruling miliknya.

Dengan menumpang kapal pamannya, Banta Berensyah pun berlayar ke negeri lain dengan menggunakan sehelai daun talas, yang ternyata mampu menahan tubuhnya. Setelah berhari-hari terombang-ambing di lautan, Banta Berensyah tiba di sebuah pulau yang mayoritas penduduknya adalah tulang tenun. 

Di sebuah rumah ia mendapati kain emas dan suasa yang sedang dicarinya. Banta meminta kepada tuan rumah untuk memberikan kain tersebut kepadanya dan akan ia bayar dengan keahliannya memainkan suling.

Dalam perjalanan ke rumah, kain emas dan suasa yang ia bawa dirampas pamannya yang sangat licik bernama Jakub. Dengan susah payah, Banta mendatangi istana raja tetapi sampai di sana, pesta pernikahan putri dan Jakub telah berlangsung. Banta tidak dapat berbuat apa apa. Ia tidak mempunyai bukti untuk menunjukkan kepada raja bahwa kain emas dan suasa yang dipersembahkan Jakub itu adalah miliknya.

Tiba-tiba muncul seekor burung elang di atas keramaian pesta sambil bersuara, “Klik.. klik… klik… kain emas dan suasa itu milik Banta Berensyah!” Akhirnya, raja dan Putri Terus Mata sadar bahwa Jakub adalah orang serakah yang telah merampas milik orang lain. 

Jakub yang tidak bisa menahan malu dan takut mendapat hukuman, langsung meloncat melalui jendela. Namun, saat akan meloncat, kakinya tersandung sehingga la jatuh ke tanah dan tewas seketika. Setelah peristiwa itu, Banta Berensyah pun dinikahkan dengan Putri Terus Mata dan raja menyerahkan jabatannya kepada Banta Berensyah.

2. Judul: Kisah Putri Ular (Sumatera Utara)

Suatu negeri di kawasan Simalungun, dipimpin oleh seorang raja yang baik dan arif. Raja tersebut memiliki seorang putri yang cantik jelita. Berita tentang kecantikan putri raja itu diketahui seluruh pelosok negeri, termasuk seorang raja muda yang memerintah di sebuah kerajaan yang letaknya tidak jauh dari kerajaan ayah sang putri. Mendengar kabar tersebut, raja muda yang tampan itu berniat untuk melamar sang putri.

Keesokan harinya rombongan utusan raja muda datang ke tempat tinggal sang putri. Sesampainya di sana, mereka segera menyampaikan pinangan dari rajanya. Dan dengan sukacita, pinangan tersebut diterima oleh ayah sang putri. Raja muda sangat gembira mengetahui pinangannya diterima.

Malamnya, sang raja memberitahukan pada putrinya bahwa ada seorang raja muda yang meminangnya. Dengan malu-malu putri mengangguk bersedia. Sang raja mengingatkan putrinya untuk menjaga diri baik-baik, agar tidak terjadi sesuatu yang dapat membatalkan pernikahan.

Suatu hari, sang putri pergi mandi dengan ditemani beberapa orang dayang- nya di sebuah kolam yang berada di belakang istana. Setelah beberapa saat berendam, sang putri duduk di atas batu di tepi kolam sambil membayangkan betapa bahagianya saat pernikahan nanti. 

Saat sang putri asyik mengkhayal, tiba-tiba angin bertiup kencang dan sebuah ranting pohon yang ujungnya tajam mendadak jatuh tepat mengenai hidungnya hingga menjadi luka. Sang putri panik membayangkan pernikahannya dengan raja muda akan gagal.

Pikiran itu terus berkecamuk di kepalanya hingga sang putri pun jadi putus asa. Sambil menangis ia berdoa minta dihukum atas perbuatannya tersebut. Tidak lama kemudian, petir menyambar-nyambar dan seketika kaki sang putri mengeluarkan sisik. Sisik tersebut semakin merambat ke atas. 

Dayang-dayangnya pun kaget dan segera memanggil kedua orang tua putri. Sesampainya di kolam pemandian, mereka sudah tidak melihat sang putri. Yang tampak hanya seekor ular besar yang bergulung di atas batu. 

Ular besar penjelmaan sang putri pun segera pergi meninggalkan mereka dan masuk ke dalam semak belukar. Sang raja dan permaisuri beserta dayang-dayang tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka pun menyesali nasib malang sang putri.

3. Judul: Asal Usul Danau Maninjau (Sumatera Barat)

Di sebuah perkampungan di kaki Gunung Tinjau, ada sepuluh orang bersaudara yang biasa disebut Bujang Sembilan. Si sulung bernama Kukuban dan si bungsu bernama Sani. Mereka mempunyai seorang paman bernama Datuk Limbatang. 

Datuk Limbatang mempunyai seorang putra bernama Giran. Suatu hari, Datuk Limbatang berkunjung ke rumah Bujang Sembilan. Saat itu-lah Sani dan Giran menyadari bahwa mereka saling menaruh hati.

Ketika musim panen, di kampung tersebut diadakan adu silat. Para pemuda kampung termasuk Kukuban dan Giran ikut mendaftarkan diri. Di acara tersebut Kukuban berhadapan dengan Giran. 

Keduanya sama kuat hingga pada suatu kesempatan Giran berhasil menangkis serangan dari Kukuban, hingga Kukuban berguling di tanah dan dinyatakan kalah. Hal itu ternyata membuat Kukuban merasa kesal dan dendam terhadap Giran.

Beberapa hari setelah acara tersebut, Datuk Limbatang datang untuk meminang Sani. Namun, karena dendam, Kukuban menolak pinangan tersebut. Selain itu, Kukuban juga memperlihatkan bekas kakinya yang patah karena Giran. Datuk Limbatang dengan bijak menjelaskan bahwa hal itu adalah wajar dalam sebuah pertandingan. Namun, Kukuban tetap bersikukuh.

Sani dan Giran pun sedih. Mereka sepakat untuk bertemu di ladang untuk mencari jalan keluar. Saat sedang berbicara, sepotong ranting berduri tersangkut pada sarung Sani dan membuat pahanya terluka. 

Giran pun segera mengobatinya dengan daun obat yang telah ia ramu. Tiba tiba puluhan orang muncul dan menuduh mereka telah melakukan perbuatan terlarang, sehingga harus dihukum. 

Mereka berusaha membela diri tetapi sia-sia dan langsung diarak menuju puncak Gunung Tinjau. Sebelum dihukum, Giran berdoa jika memang mereka bersalah, la rela tubuhnya hancur di dalam air kawah gunung.

Namun, jika tidak bersalah, letuskanlah gunung ini dan kutuk Bujang Sembilan menjadi ikan. Setelah itu Giran dan Sani segera melompat ke dalam kawah. Beberapa saat berselang, gunung itu meletus yang sangat keras dan menghancurkan semua yang berada di sekitarnya. 

Bujang Sembilan pun menjelma menjadi ikan. Letusan Gunung Tinjau itu menyisakan kawah luas yang berubah menjadi danau, yang akhirnya diberi nama Danau Maninjau.

4. Judul: Hang Tuah Kesatria Melayu (Riau)

Pada masa lalu, dikenal seorang ksatria bernama Hang Tuah. Saat berumur sepuluh tahun, Hang Tuah pergi berlayar ke Laut Cina Selatan disertai empat sahabatnya, yaitu Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu. 

Dalam perjalanan, mereka berkali-kali diganggu oleh gerombolan bajak laut, tetapi mereka selalu berhasil mengalahkan gerombolan itu. Kabar tersebut terdengar sampai ke telinga Bendahara Paduka Raja Bintan. Ia pun mengangkat mereka sebagai anak angkatnya.

Suatu hari di istana Majapahit terjadi sebuah kegaduhan. Taming Sari, prajurit Majapahit yang sudah tua tapi amat tangguh, tiba-tiba mengamuk. Mengetahui keadaan itu, Hang Tuah kemudian menghadang Taming Sari dan berhasil mengalahkannya. 

Hang Tuah kemudian diberi gelar Laksamana dan dihadiahi keris Taming Sari. Hang Tuah menjadi laksamana yang amat disayang, serta dipercaya raja. Hal itu menimbulkan rasa iri pada Patih Kerma Wijaya, sehingga ia pun menyebar fitnah.

Baginda Raja pun marah dan mengusir Hang Tuah. Ia pun segera meninggalkan Melaka dan pergi ke Indrapura. Suatu waktu, di Indrapura ia kedatangan tamu dari Melaka yang memintanya kembali ke Melaka, dan mendapat tugas menjadi Laksamana Melaka lagi.

Suatu hari, Hang Tuah melakukan pelayaran ke negeri Cina. Di pelabuhan Cina, rombongannya berselisih paham dengan orang-orang Portugis. Dalam perjalanan pulang kembali ke Melaka, mereka diserang oleh Portugis, tetapi Hang Tuah mampu mengatasi serangan mereka dan selamat.

Sementara itu, Gubernur Portugis di Manila sangat marah mendengar laporan kekalahan dan melakukan penyerangan ke Selat Malaka sebagai balas dendam. Pada saat itu Baginda Raja memerintahkan Tuan Bendahara untuk meminta bantuan Hang Tuah. 

Meski sakit, Hang Tuah tetap memimpin pasukan. Namun, sebuah peluru mesiu Portugis menghantar Hang Tuah. la terlempar sejauh 7 meter dan terjatuh ke laut. Beruntung, Hang Tuah berhasil diselamatkan. 

Akhirnya, peperangan berakhir tanpa pemenang dan yang kalah. Setelah sembuh. Hang Tuah tidak lagi menjabat sebagai Laksamana Melaka karena sudah semakin tua. la menjalani hidupnya dengan menyepi di puncak bukit Jugara di Melaka.

5. Judul: Kisah Kucing Sang Guru (Lampung)

Pada zaman dahulu, di Lampung. Konon, binatang bisa berbicara seperti manusia Pada saat itu, kucing dianggap sebagai guru bagi binatang lain karena sifatnya yang cerdik, bijaksana dan adil

Kucing mempunyai murid yaitu harimau singa dan anjing. Dari Ketiga binatang buas itu harimau lah yang paling cerdas. la selalu ingin tahu banyak hal dan sering bertanya, baik pada saat belajar maupun di luar pelajaran.

Suatu hari, harimau meminta kucing mengajarinya memanjat pohon. Namun, karena Kucing harus lebih pintar dari harimau kucing tidak mau mengajarkannya. Agar tidak mengecewakan harimau, ia mengajak muridnya itu pergi bermain. Namen, harimau terus mendesak kucing untuk mengajarinya memanjat pohon.

“Untuk apa kamu ingin belajar itu? Apakah akan digunakan untuk hal-hal yang baik atau hal buruk?

“Untuk apa saja jawab harimau!” jawab harimau.

“Ilmu itu harus dimanfaatkan untuk kebaikan,” ujar kucing

“Jadi, guru mau atau tidak mengajariku?” tanya harimau dengan nada mengancam “Bagaimana kalau aku tidak mau mengajarimu?” tanya kucing yang mulai merasa terancam dengan desakan harimau. Bagaimanapun, ia tak akan menang melawan harimau.

“Jangan menyesal nantinya” kata harimau menantang.

“Aku tidak akan mengajarimu.” sahut kucing

Harimau marah Kucing segera melarikan diri. Namun, ia hampir diterkam oleh harimau. Ketika ada pohon besar di hadapannya, Kucing memanjat dengan lincah. Harimau sangat terpesona melihat kemampuan kucing memanjat. Ilmu itulah yang diinginkannya

Dengan rasa dendam, harimau bersumpah kepada gurunya. Walaupun ia tidak bisa membunuh Kucing, Kotorannya pun akan dimakannya. Mendengar sumpah harimau, kucing menjadi sangat berhati-hati.Hingga kini jika buang air besar kucing akan menimbun atau menutup kotorannya agar tidak terlihat harimau.

6. Judul: Situ Bagendit (Jawa Barat)

Zaman dahulu kala, di sebuah desa di daerah Jawa Barat, hiduplah seorang perempuan kaya yang bernama Nyai Bagendit. Ia terkenal sangat kaya, tetapi juga sangat kikir dan congkak. Nyai Bagendit paling senang menyelenggarakan pesta pesta dan gemar memamerkan harta benda dan perhiasannya kepada warga sekitar.

Namun, ia tidak pernah mau membantu warga sekitar yang sedang kesulitan. Setiap kali warga datang untuk memohon bantuan, Nyai Bagendit akan menolaknya dengan angkuh Warga sangat tidak menyukai perangai Nyai Bagendit. Namun, mereka tidak bisa berbuat apapun juga

Suatu hari, Nyai Bagendit kembali menyelenggarakan pesta. Ia pun mulai memamerkan kekayaaan dan perhiasannya kepada tamu yang hadir. Tiba-tiba, datanglah pengemis dengan pakaian compang-camping dan kotor.

“Nyai, tolonglah beri hamba makanan sedikit saja,” kata pengemis tersebut. Nyai Bagendit pun marah dan mengusir pengemis itu. “Pergi Kau dari rumahku, pengemis kotor!” Pengemis itu pun pergi dengan perasaan sedih.

Keesokan harinya, di desa itu, terjadi sesuatu yang aneh. Di sebuah jalan di desa tersebut, tiba-tiba ada sebuah lidi tertancap. Tidak ada seorang pun yang bisa mencabut lidi tersebut walaupun telah mencoba melakukannya beramai-ramai. Akhirnya, datanglah pengemis yang kemarin meminta makan kepada Nyai Bagendit. Ia mencabut lidi tersebut

Setelah tercabut, mengalirlah air dari tempat lidi tersebut tertancap, Makin lama semakin deras. Karena takut tenggelam, penduduk segera mengungsi mencari tempat yang aman. Nyai Bagendit tidak mau meninggalkan rumahnya walaupun air semakin tinggi. 

Ia tidak mau meninggalkan harta bendanya karenanya ia pun tenggelam bersama rumah dan isinya. Tempat tenggelamnya itu kemudian menjadi danau yang dinamakan Situ Bagendit.

7. Judul: Si Malin Kundang (Sumatera Barat)

Di pesisir pantai wilayah Sumatera hiduplah seorang anak laki-laki yang bernama Malin Kundang bersama ayah ibunya. Suatu hari ayahnya pergi meng- adu nasib ke negeri seberang dengan mengarungi lautan yang luas. Hampir setahun ayahnya tidak pernah kembali dan dikabarkan telah meninggal.

Sejak saat itu, ibunya yang mencari nafkah untuk mereka berdua. Malin anak yang cerdas walau kadang nakal. la suka mengejar ayam hingga suatu kali terjatuh dan meninggalkan bekas luka di lengannya.

Saat dewasa, Malin Kundang merasa kasihan dengan ibunya yang sudah tua tetapi tetap bekerja. la pun menyampaikan niatnya untuk mencari nafkah di negeri seberang. Walaupun awalnya ibunya tidak setuju, tapi akhirnya ia tetap mengizinkannya untuk pergi. 

Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang diserang oleh bajak laut. Malin Kundang sangat beruntung dirinya selamat dan tidak dibunuh karena Malin bisa bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu.

Malin Kundang terkatung-katung di tengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. 

Selanjutnya, Malin menetap di desa itu dan bekerja dengan gigih dan ulet. Malin pun menjadi kaya raya dan ia pun telah mempersunting seorang gadis. Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga ke- pada ibunya. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur anaknya telah berhasil.

Suatu hari Malin dan istrinya melakukan pelayaran ke kampungnya dengan kapal yang besar dan indah disertai anak buah kapal serta pengawalnya. Saat Malin turun dari kapal, ibunya berdiri cukup dekat dan meyakini bahwa itu anaknya karena ia melihat bekas luka di lengannya. 

Ia pun segera memeluk Malin, tetapi dengan kasarnya Malin melepaskan pelukan. Bahkan, mendorongnya, menghinanya, serta tidak mengakui bahwa wanita itu ibunya. Ibu Malin sangat sedih dan marah. 

Karena itu ia segera menengadahkan tangan, “Oh Tuhan, kalau benar la anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu”. Tidak berapa lama kemudian angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat. Tubuh Malin Kundang pun perlahan kaku dan menjadi sebuah batu karang.

8. Judul: Asal Usul Danau Toba (Sumatera Utara)

Di suatu daerah di Sumatera Utara, hiduplah seorang pemuda. Suatu hari ia pergi memancing. Setelah cukup lama ia melemparkan pancing, tak seekor ikan pun yang menyentuh umpannya. 

Pemuda itu mencoba sekali melemparkan pancingnya agak ke tengah sungai. Tiba tiba seekor ikan menyambarnya. Dengan susah payah pemuda itu menarik pancingnya hingga tampaklah seekor ikan besar tergantung di ujung tali pancingnya.

Dengan senang hati ia bergegas pulang ke rumah dan langsung membawa ikan itu ke dapur. Ketika hendak memanggang ikan itu, ternyata persediaan kayu bakar telah habis, la menuju kamar untuk mengambil persediaan bayu bakar. Saat kembali ke dapur, ikannya lenyap dan berganti dengan beberapa keping uang emas.

Dengan perasaan bingung, pemuda itu mengambil kepingan uang emas itu dan hendak menyimpannya di kamar. Betapa terkejutnya saat membuka pintu kamar, ia melihat seorang gadis yang sangat cantik yang ternyata adalah jelmaan dari ikan tadi. 

Gadis itu meminta untuk diperbolehkan tinggal di rumah itu. Akhirnya, mereka pun menikah dengan syarat sang pemuda bersumpah tidak akan pernah mengungkit asul-usulnya.

Setelah menikah, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki. Suatu hari, ibunya menyuruh anak itu mengantarkan bungkusan nasi dan ikan panggang untuk ayahnya di ladang. 

Di tengah perjalanan, tiba-tiba anak itu merasa lapar, la pun berhenti dan memakan sebagian isinya. Sesampainya di ladang, ia segera menyerahkan bungkusan itu kepada ayahnya. Sang ayah pun murka melihat isinya. la murka sambil berkata, “Dasar anak keturunan ikan!” Anak itu pun pulang dan mengadukan kejadian itu pada ibunya.

Sang ibu pun sedih. Seketika itu pula sang ibu menyuruh anaknya agar naik ke puncak bukit dan la sendiri segera berlari menuju ke sungai. Saat ia berada di tepi sungai, cuaca yang semula cerah, tiba-tiba berubah menjadi gelap gulita. 

Langit bergemuruh disusul petir menyambar-nyambar disertai hujan yang sangat deras. Pada saat itulah, sang ibu segera melompat ke dalam sungai dan tiba-tiba berubah menjadi seekor ikan besar. 

Dalam sekejap, sungai itu banjir, menyebabkan genangan air yang luas dan akhirnya berubah menjadi sebuah danau yang sangat besar. Oleh masyarakat setempat, danau itu dinamakan Danau Toba.

9. Judul: Si Parkit Raja Parakeet (Aceh)

Konon, di tengah hutan belantara Aceh, hiduplah sekawanan burung parakeet yang hidup damai, tentram, dan makmur. Kawanan burung tersebut dipimpin oleh seorang raja parakeet yang bernama si Parkit.

Suatu hari datanglah seorang pemburu yang berniat menangkap mereka dengan cara memasang perekat. Si Parkit mengetahui niat jahat pemburu dan memberitahukan pada seluruh kawanan burung untuk berhati-hati.

Saat burung-burung itu keluar dari sarangnya untuk mencari makan, mereka terekat pada perekat si Pemburu. Mereka berusaha melepaskan diri tetapi sia-sia. Melihat kejadian itu, si Parkit menenangkan rakyatnya dan memberi tahu untuk berpura-pura mati saat pemburu melepaskan mereka dari perekatnya, agar si Pemburu itu nantinya tidak jadi mengambil mereka.

Ternyata cara itu dapat mengelabui si Pemburu dan saat lengah, kawanan burung tersebut melarikan diri. Si Pemburu pun kaget dan menyadari bahwa ia telah ditipu. Malangnya, si Parkit justru masih terjebak. 

Pemburu segera menghampirinya dan mengancam akan membunuhnya. Si Parkit yang ketakutan pun membujuk si Pemburu agar tidak membunuhnya dan berjanji akan bernyanyi setiap hari untuk menghibur pemburu.

Sejak saat itu, setiap hari si Parkit selalu bernyanyi. Banyak orang yang memuji kemerduan si Parkit, salah satunya Raja Aceh. Akhirnya, dengan menyerahkan sejumlah uang kepada pemburu, si Parkit menjadi milik raja. Ia dibawa ke istana, dimasukkan ke dalam sangkar emas, dan diberikan makanan enak setiap harinya.

Meskipun serba enak, si Parkit tetap ingin kembali ke hutan, agar ia bisa ter- bang bebas bersama rakyatnya. Si Parkit pun memikirkan cara untuk bisa keluar dari sangkar dan memutuskan untuk berpura-pura mati.

Suatu hari, petugas istana melaporkan kematian si Parkit pada raja. Sang raja pun sedih mendengar berita kematian itu. Namun, ketika hendak dikuburkan, si Parkit dengan cepat terbang setinggi-tingginya. Akhirnya si Parkit yang cerdik itu bisa kembali ke hutan. Kedatangan si Parkit pun disambut dengan meriah oleh rakyatnya.

10. Judul: Asal Usul Padi (Sumatera Utara)

Alkisah, di Tanah Karo, Sumatera Utara, berdiri sebuah negeri yang mengalami kemarau panjang. Di antara penduduk negeri tersebut, tampak seorang anak laki-laki yang sudah yatim bernama si Beru Dayang, sedang menangis meminta makan di pangkuan ibunya. 

Ibunya sedih tetapi tidak bisa melakukan apa-apa. Semakin lama tubuh si Beru Dayang semakin lemas hingga akhirnya meninggal. Sejak kepergian anaknya, kesedihan sang ibu semakin bertambah. la pun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan terjun ke sungai yang dalam. Tak seorang pun warga yang mengetahui kejadian itu.

Beberapa bulan telah berlalu, musim kemarau belum juga berakhir. Di tengah padang yang kering kerontang tampak dua orang anak kecil sedang mengais-ngais tanah mencari umbi-umbian. 

Tiba-tiba, salah seorang dari mereka menemukan buah berbentuk bulat sebesar buah labu. Akhirnya, kedua anak tersebut membawa pulang buah itu untuk ditunjukkan kepada orangtua mereka. 

Ternyata orangtua maupun seluruh warga negeri itu tidak ada yang mengenali buah itu. Sang raja yang mendapat laporan dari salah seorang warga pun berkenan datang untuk melihatnya.

Saat raja dan para penduduk berkumpul melihat buah itu, tiba-tiba terdengar suara dari angkasa yang mengatakan bahwa buah itu adalah jelmaan seorang anak laki-laki kecil yang bernama si Beru Dayang. 

Suara itu juga memerintahkan penduduk untuk menanamnya dengan baik agar kelak bisa menjadi makanan. Tidak hanya itu, suara tersebut juga mengatakan bahwa Beru Dayang sangat merindukan ibunya dan meminta untuk dipertemukan dengan ibunya yang telah menjelma menjadi ikan di sungai. 

Jika semua itu dilakukan, maka seluruh penduduk negeri itu tidak akan kelaparan lagi, ujar suara ajaib itu. Sang raja pun memerintahkan untuk melaksanakan pesan yang disampaikan oleh suara itu. 

Setelah genap tiga bulan, buah tanaman itu pun menguning dan siap untuk dipanen. Setelah dipanen, buah itu kemudian mereka jemur dan tumbuk untuk memisahkan kulit dengan isinya, kemudian dimasak. 

Ternyata, buah tanaman itu adalah padi. Untuk mempertemukan si Beru Dayang dengan ibunya, masyarakat Tanah Karo menyantap makanan bersama dengan ikan yang dipercaya sebagai penjelmaan dari ibu Beru Dayang.

Itulah contoh cerita rakyat pendek terpopuler. Semoga bermanfaat!

Editor : Komaruddin Bagja

Follow Berita iNewsAceh di Google News

Bagikan Artikel:

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
COCOL88 GACOR77 RECEH88 NGASO77 TANGO77 PASUKAN88 MEWAHBET MANTUL138 EPICWIN138 WORTEL21 WORTEL21 WORTEL21 WORTEL21 WORTEL21